Apa Kabar Semarang – Juladi Boga Siagian, orang tua siswi SD yang sempat viral karena harus menyusuri sungai demi bersekolah, kini menghadapi tekanan baru. Warga Kampung Lamongan, Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, meminta Juladi segera pindah dari lingkungan tersebut. Alasannya bukan lagi soal akses jalan, tapi karena peliharaan dan aktivitasnya sebagai pengepul barang bekas.
Ketua RT setempat, Sugito, membenarkan bahwa warga telah mengajukan petisi berisi desakan agar Juladi meninggalkan kampung tersebut. Petisi itu ditandatangani oleh 21 warga dan disertai bukti foto, seperti tumpukan kardus dan tangkapan layar CCTV yang menunjukkan beberapa anjing berada di sekitar rumah Juladi pada malam hari.

“Iya, itu kehendak warga. Ada petisi juga. Warga merasa resah karena anjing yang diliarkan dan soal sampah atau kardus-kardus yang dijemur di pinggir jalan,” ujar Sugito, Senin (4/8/2025).
Baca Juga : Alasan Warga Minta Ortu Siswi Semarang Viral Sekolah Lewat Sungai Pindah
Juladi yang sehari-hari bekerja sebagai pengepul rongsokan pun memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa anjing peliharaannya selalu diawasi dan tidak dibiarkan berkeliaran bebas. Menurutnya, hewan tersebut hanya keluar siang hari dan akan dimasukkan ke dalam rumah saat malam.
“Itu anjing saya lepas, tapi saya jaga. Kalau malam saya masukkan. Jadi kalau keluar pun saya awasi,” ucap Juladi.
Juladi Buka Suara Soal Petisi Warga yang Minta Dirinya Pindah
Terkait tudingan soal sampah, Juladi menjelaskan bahwa yang dijemur di pinggir jalan bukanlah sampah melainkan kertas dan kardus basah yang akan dijual. Ia menyayangkan bahwa aktivitas ini justru dipermasalahkan, padahal menurutnya beberapa warga lain yang juga bekerja sebagai pengepul tidak mendapat teguran serupa.
“Saya jemur kertas basah, bukan sampah sembarangan. Setelah kering saya bersihkan dan simpan. Warga lain juga ada yang jemur seperti itu, tapi kenapa hanya saya yang dipermasalahkan?” tambahnya.
Sebelumnya, nama Juladi mencuat di media sosial setelah anak perempuannya viral karena harus berangkat sekolah melewati aliran sungai. Akses jalan menuju rumahnya tertutup akibat sengketa lahan, sehingga jalur sungai menjadi satu-satunya alternatif.
Kisah ini sempat mengundang simpati luas, namun kini keluarga tersebut justru harus menghadapi penolakan dari tetangga. Permasalahan ini mencerminkan kompleksitas konflik sosial di lingkungan permukiman padat dan pentingnya mediasi antara warga serta pihak terkait agar tercipta solusi yang adil.






